Khalifah Muawiyah & DHL Post

Reading supplement #10

by: Zico Pratama Putra

Bulan Ramadhan beberapa tahun lalu, saya pernah kerja di satu perusahaan biskuit di pinggiran kota Aachen, Jerman. Pabrik ini bisa ditempuh sejarak 2,5 jam dari tempat saya tinggal. Berhubung ransum sudah sangat tipis, sepertinya udah ga ada pilihan selain kerjaan ini demi menjaga kepulan asap dapur. Bukan kerja jadi direktur, salah banget. Tugas saya 8 jam bikin adonan kue, naburin coklat, kacang, dll ke mesin biskuit dengan sistem ban berjalan.

Sambil sibuk naburin kacang pada satu mesin berjalan, tiba-tiba saya dihampiri sesosok pemuda tampan nan gagah jebolan terbaik IPB, Kang Joe, “Zic, gawe di DHL yok. Deket dari rumah. Daerah Dusseldorf gitu. Kerjaannya nyantai banget”.

Tawaran Kang Joe ini ibarat mata air di telaga padang pasir. Naluri bisnisnya memang luar biasa, terutama insting penyelamatan diri pas kepepet. Beliau student tangguh yang sukses dengan bisnis Travel keliling Eropa. Sudah banyak tokoh dan artis nasional menggunakan jasanya untuk traveling, berbekal kemampuan bahasa asingnya yang mencapai 5 bahasa.

Singkatnya, masuklah saya di DHL ini dan belajar satu core businessnya. Bagian saya mengurus pengiriman surat masal ke jutaan penerima dari satu pengirim. Ini mirip dengan kiriman surat daftar pemilih KPU ke jutaan penduduk Indonesia. Cuman bedanya, sistem DHL ini 10 kali lipat lebih efisien dan lebih jitu dari sistem konvensional Indonesia.

Ngga heran, DHL sebagai perusahaan post merupakan salah satu perusahaan paling gelimang duit se-dunia. Berbanding terbalik sama PT. POS Indonesia yang cenderung rugi mulu. Apalagi pas dihajar sama kehadiran surat elektronik atau email.

Sistem surat masal ini memungkinkan setiap penduduk yang jumlahnya jutaan itu menerima pemberitahuan surat, semisal adanya rencana pemadaman listrik, air, gangguan telepon sementara, bahkan rincian tagihan tiap orang secara masal.

Rugi kalo kerja di LN ga pelajarin sistemnya. Maka flownya dijelaskan oleh Kang Joe sbb:
“Jadi pertama kita punya Roll kertas yang tebelnya setinggi orang. Roll itu masuk ke dalam mesin pemotong kertas. Sistem ban berjalan akan membawa kertas itu ke mesin prin surat. Disitulah mesin tersebut mencetak isi surat untuk jutaan orang berbeda secara masal. Isi suratnya tentu lain-lain. Beres dari situ, surat akan dibawa ban berjalan ke arah mesin “origami” pelipat surat jadi tiga bagian supaya muat masuk amplop.

Disisi lain, ada juga kertas yg melaju ke mesin pelipat amplop. Amplop tersebut lalu dibawa mesin biar ketemu sama surat-surat tadi dan secara ajaib masuk ke dalam amplop. Selanjutnya amplop berisi surat masuk ke mesin lem amplop. Warbiasah…

Jutaan surat tersebut masuk ke dalam mesin sistem sortir kode pos yang mampu melempar ratusan surat per-detik ke dalam tumpukan rak-rak dengan kode pos masing-masing. Ujung-ujungnya, tau-tau semua amplop udah tercetak perangko satu-satu.”

Pantesan cepet banget DHL kirim surat, dan semuanya relatif irit. Saya pernah coba hitung kisaran modal yang dibutuhkan untuk keseluruhan mesin ini kalo nyari di Cina. Yah, ternyata masih dibawah 1 M lah. Sistem ini cocok banget buat yang mau bikin Undangan masal, pemberitahuan dari lembaga ke nasabah-nya, atau pilkada.

Apa hubungannya DHL sama Khalifah Muawiyah ra.?

Muawiyah ra. adalah orang pertama di dunia yang membuka layanan pos surat. Shock?!
Bahkan layanan pos ini cuman satu dari banyak rintisan dunia yang telah dibuat Muawiyah ra.

Di antara keutamaan Mu’awiyah, dia merupakan panglima pertama yang berperang mengarungi lautan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Pasukan pertama dari umatku yang berperang mengarungi lautan telah dipastikan bagi mereka (yakni surga)”.(HR. Bukhari).

Bahkan terpilihnya beliau sebagai khalifah telah diramalkan Nabi SAW : “Telah ditampakkan kepadaku beberapa orang dari umatku yang mengarungi samudera biru ini, laksana para raja di atas singgasananya!”

Muawiyah ra. didoain jadi orang pintar. Padahal sekolah saat itu belum ada. Rasul mengatakan: “Ya Allah, ajarkanlah Muawiyah menulis, perhitungan, dan lindungilah dia dari siksa neraka.”

Doa pandai menulis dan berhitung ini jadi modal Muawiyah ra. menciptakan hal-hal yang belum pernah ada sebelumnya. Dia adalah khalifah kedua dari klan Umayah, yang pertamanya adalah Khalifah Utsman bin Affan ra. Dua kekhalifahan mempercayakan beliau menjadi Gubernur Syria. Syria dulunya cuma satu provinsi, sekarang kan udah jadi Negara.

Barid
———–

Kebutuhan militer banyak melahirkan kreativitas. Lihat saja kreasi Q yang banyak menciptakan produk-produk canggih untuk agen 007, semisal sepatu jadi telepon, jam yg bisa tembak, dll. Sistem pos ini awalnya diciptakan Khalifah Umar ra. untuk kebutuhan militer. Berhubung manfaatnya banyak, Muawiyah membukanya menjadi untuk publik dengan nama “Barid”. Persis seperti internet yang awalnya dibuat pentagon, USA, untuk kebutuhan militer.

Barid adalah jasa pos yang dikelola negara dari kekhalifahan Bani Umayyah. Barid menjadi lembaga utama di negara Islam awal yang tidak hanya bertanggung jawab untuk pengiriman darat dari korespondensi resmi seluruh imperium, namun juga berfungsi sebagai badan intelijen dalam negeri, yang menginformasikan para khalifah seputar kejadian di provinsi dan kegiatan aparat pemerintah.

Konon kisah Laila Majnun, cikal bakalnya Romeo & Juliet, lahir gara-gara surat-suratan ini.
Seberapa laris layanan surat ini? Pikir sendiri dah. Sebagai imperium dengan wilayah dan populasi terbesar ke lima di dunia (nomor satunya british), jumlah penduduk 62 juta jiwa menurut sensus khalifah saat itu (Yes, they did real census!!). Ini mewakili 29% populasi dunia.

Barid ini memiliki banyak kantor pos yang tersebar ke seantero negeri sebagaimana dalam gambar. Barid yang membantu para khalifah berkomunikasi dengan para pejabat mereka di berbagai daerah. Tukang pos nya yang mampu memberikan pesan tertulis di seluruh wilayah dengan efisiensi yang besar, dengan kecepatan perjalanan dilaporkan secepat hampir seratus mil per hari.

Untuk memudahkan pengiriman pesan cepat, barid yang mempertahankan jaringan luas stasiun relay, dengan kuda-kuda yang fresh, penginapan dan sumber daya lain untuk kurir nya. Rata-rata jarak antara setiap stasiun barid itu, setidaknya dalam teori, 2-4 farsakhs (10 sampai 20 km). Menurut ahli geografi abad ke-9, Ibnu Khurradadhbih, ada total dari 930 stasiun di seluruh wilayah Bani Umawiyah (lihat jalurnya di foto). Jaringan relay ini adalah stasiun pos fleksibel dan temporer yang bisa diatur sesuai kebutuhan. Selama kampanye militer, misalnya, stasiun barid baru akan dibentuk sehingga jalur komunikasi dapat dipertahankan sesuai dengan majunya barisan tentara.

Kenapa Romawi ngga punya?

Romawi atau byzantium bikin juga, cuman lebih untuk angkutan barang dari pada korespondensi. Gimana mo nge-pos, rakyatnya aja pada ngga bisa nulis??!! Pas umat Islam lagi moncer-moncernya melahirkan penulis dan pemikir brilian, kaisar Romawi di zaman khalifah Harun Al-Rasyid, Charlemagne, baru belajar ngeja namanya sendiri.

Saya ngga kebayang ada sahabat nabi yang ngga bisa baca tulis, sedangkan ayat pertama Quran turun dengan perintah iqra’. Allah perintahkan kita untuk “mencatat” ketika hutang piutang. Ketika Rasul SAW membuka majelis, para sahabat duduk dengan pena siap mencatat ayat yang turun.

Belum pernah ada peradaban dunia sebelum itu yang melakukan lompatan kuantum, dari bangsa yang ummiy atau buta huruf berubah jadi bangsa penulis dalam sekejap. Bahkan NKRI yang sudah merdeka 70 tahun, masih saja ada yang belum bisa calistung. Konon pemilik tiga warteg di Serang pun mengaku ndak bisa baca.

Kenapa China ngga bikin?

Biarpun China dikenal dengan peradaban lembah sungai kuning sebagai katanya peradaban tertua di dunia. Nyatanya peradaban mereka ngga melahirkan pemikir-pemikir brilian, padahal tulisan cina usianya konon sudah ribuan tahun. Mungkin mereka lebih suka melahirkan pendekar dari pada pemikir & penulis. Sekalinya kirim surat, mereka akan menulis “Dear kakak pertama, salam dari kakak kedua”.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.