Tanya Ustadz #01

“…maka bertanyalah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” QS 16: 43

Punya pertanyaan seputar fikih dan permasalahan kontemporer lainnya dalam Islam?
KIBAR membuka Rubrik Tanya Ustadz yang insyaAllah akan dibina langsung oleh Ustadz Rosihan Anwar, Biro Syariah Human Aid Initiative.

Pertanyaan:

Begini mas, masalah covid ini, kan, selama ini diselesaikan dengam kekuatan manusia lewat vaksin dan protokol. Cara semacam ini menurut saya antroposentris dan oke. lah. namanya juga ikhtiar, no problem.

Nah, dalam tarikh Nabi, salah satu masalah yg menyangkut hajat hidup orang banyak adalah ketika hujan tidak turun sekian lama dan akhirnya diadakan sholat minta hujan.

By drawing the analogy, bagaimana kalau kasus covid ini diperlakukan dengan minta hujan? Misalnya kalo kita menggerakkan jamaah untuk melakukan sholat taubat dan hajat nasional satu bulan di UK ini. Apakah dibolehkan secara Fiqh? Dan bagaimana prosedurnya?

Jawaban:

Photo by Sid Ali from Pexels

Pertama, secara maqoshid sholat istiqo (meminta hujan), sholat taubat dan hajat adalah permohonan hamba kepada Allah. Permohonan hujan (sholat istisqo), permohonan ampunan (sholat taubah) dan permohonan hajat.

Kedua sebab, memiliki sebab yang sama antara sholat istiqo dan sholat taubah adalah bermaksiatnya hamba kepada Allah, namun sebab sholat istisqo lebih jelas dalam hadits yang diriwayatkan oleh ibnu majah adalah kekeringan dikarenakan ulah manusia sendiri, bermaksiat kepada Allah, enggan membayar zakat dan sebagaimana dalam hadits Rosulullah Shallallahu álaihi wa salam.

يا معشر المهاجرين: خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله أن تدركوهن………….ولم يَمْنعوا زكاة أموالهم إلا مُنعوا القطرَ من السماء

Wahai sekalian kaum muhajirin, kalian akan diuji dengan lima perkara dan aku memohon perlindungan Allah agar kalian tidak ditimpa hal-hal tersebut,………. Ketika mereka, orang-orang tidak mau (enggan ) membayar zakat, melainkan air hujan akan ditahan dari langit”.

Namun, sholat taubah hukumnya tidak wajibkan bagi siapa yang ingin bertaubah kepada Allah dan hukumnya sunnah dilakukannya, secara perorangan tidak dengan berjamaáh, berbeda dengan sholat istiqo hukum sunnah muakkad dan dilakukan secara berjamaáh di tanah lapang, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rosulullah yang diriwayatkan abu daud.

Dari penjelasan maqoshid dan sebab sholat istiqo dan sholat taubah, maka sholat taubat tidak dapat bisa diqiyaskan, akan tetapi saat wabah melanda disyariatkan untuk melakukan qonut nazilah, sebagaimana Hadit Aisyah , saat wabah dimadinah dan abu bakar dan bilal sakit maka Rosulullah SAW berdoa

قدمنا المدينة وهي وبيئة، فاشتكى أبو بكر رضي الله عنه، واشتكى بلال رضي الله عنه، فلما رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم شكوى أصحابه رضي الله عنه، قال: «اللهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، وَصَحِّحْهَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا، وَحَوِّلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ

Dulu kami datang ke Madinah ketika kota ini banyak wabah penyakit. Abu Bakar dan Bilal pun jatuh sakit. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wa salam pun berdo’a tatkala melihat para sahabatnya jatuh sakit, “Ya Allah, berikanlah kecintaan kepada kami terhadap kota Madinah sebagaimana Engkau memberikan kepada kami kecintaan terhadap Makkah, atau bahkan lebih dari Makkah. Jadikanlah Madinah sebagai kota yang sehat, dan berikanlah keberkahan pada takaran sha’ dan takaran mudd kami, dan alihkan penyakitnya ke Juhfah ( HR Bukhori ).

Adapun doa Qunut Nazilah berbeda-beda, ada yang doa seperti Rosulullah mendoakan para sahabat sakit saat wabah, sebagaimana hadits di atas, dan ada juga selain itu disesuaikan dengan kondisi.

Adapun cara melakukan di setiap shalat wajib di rakaat terakhir setelah ruku, Selain Qunut Nazilah saat wabah ini, dianjurkan untuk bertaubat kepada Allah, beristiqhfar dan berpebanyak berzikr kepadaNya, agar wabah cepat berlalu dan Allah melindungi kita.

Image by Sharon Ang from Pixabay

Hadits ini juga diriwayatkan oleh imam Abu Dâwud dengan lafazh :

« مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ». ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الآيَةَ (وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ.

Tidak ada seorang hamba pun yang melakukan dosa, lalu dia bersuci dengan baik selanjutnya berdiri lalu melakukan shalat dua raka’at, kemudian memohon ampun kepada Allâh, kecuali Allâh pasti akan mengampuninya. Kemudian beliau n membaca ayat (yang artinya), “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allâh…”, sampai akhir ayat[2].

Wallahu álam bishowab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.