Kiat Membiasakan Si Kecil Shalat Subuh Tepat Waktu

Disclaimer: kiat ini memerlukan konsistensi ayah bunda terlebih dahulu untuk membiasakan diri mereka sendiri dalam shalat tepat waktu.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, dirinya suatu ketika pernah bertanya kepada Rasulullah: Amalan apakah yang paling dicintai Allah?

Jawab Rasulullah: Shalat pada waktunya.

Ibnu Mas’ud: Kemudian apa?

Rasulullah: Birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua).

Ibnu Mas’ud: Kemudian apa?

Rasulullah: Jihad fi sabilillah.

Ibnu Mas’ud: Demikianlah yang disampaikan Rasulullah. Andai aku minta keterangan tambahan niscaya beliau akan menambahkan. (Shahih al-Bukhari bab fadlis-shalat li waqtiha No. 527)

Demikian utamanya posisi ibadah shalat pada waktunya hingga Nabi kita mengabarkannya sebagai amalan yang paling dicintai Allah di atas keutamaan ibadah-ibadah utama lainnya. Dalam keseharian kita, menegakkan shalat tepat waktu dan mendidik keluarga dalam hal tersebut memerlukan kesabaran. Dalam Surat Taha ayat 132 secara khusus Allah menyuruh para orangtua untuk bersabar dalam perkara ini. Di antara makna sabar dalam lingkup ini bisa berupa  proaktif menemukan dan menggali teknik-teknik baru dalam mengkondisikan si kecil untuk tumbuh menjadi muslim yang mencintai shalat tepat waktu. Tentunya seiring tumbuhnya kebiasaan tersebut dalam diri si anak, yang tidak kalah pentingnya adalah para ayah bunda memperkenalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka sehingga dari kebiasaan bisa tumbuh subur menjadi kecintaan.

Photo by M.T ElGassier on Unsplash

Dalam tulisan singkat ini saya ingin berbagi dengan ayah bunda sebuah kiat praktis membiasakan si kecil untuk menegakkan shalat tepat waktu, khususnya shalat subuh. Saya dan istri menyebut kiat ini sebagai “Teknik Penawaran yang Tak Akan Ditolak” atau Irresistible Offer Technique (IoT). Sudah kami praktikkan sendiri di keluarga kami dan effective ratenya lumayan tinggi.

  • Langkah nol, buat kesepakatan dengan si kecil bahwa mulai nanti malam akan diterapkan peraturan baru di rumah, bahwa semua gadget/perangkat elektronik/tablet/hp/laptop akan disimpan di kamar ayah bunda selama si kecil tidur dan baru boleh digunakan lagi keesokan harinya. Jika si kecil tidak menggunakan perangkat elektronik, bisa diganti dengan sesuatu yang paling menarik perhatiannya dan tak akan ditolaknya, misalnya mainan baru.
  • Langkah pertama, akan lebih bagus jika si kecil diberitahu sejak kali pertama ia mendapat perangkat elektronik bahwa semua gadget tersebut statusnya “dipinjamkan” oleh ayah bunda, bukan “dimiliki” oleh si kecil sehingga buat kesepakatan bahwa pinjaman harus dikembalikan setiap menjelang tidur. Namun jika sudah terlanjurkan diberikan dan menjadi milik si kecil sepenuhnya (hadiah, reward, dll) maka langkah solusinya adalah seperti langkah nol.
  • Langkah kedua, jika sudah tercapai kesepakatan, upayakan ada kesepakatan juga kapan waktu penyimpanan perangkat ke kamar ayah bunda, misalnya setelah shalat maghrib, setelah shalat isya, atau jam 8pm, dll dan yang paling penting adalah konsistensi dalam kesepakatan tersebut.
  • Langkah ketiga, setelah disimpan di tempat yang disepakati lalu matikan semua perangkat tersebut untuk menghindari distraksi, alarm, notifikasi, dll yang mungkin masih aktif.
  • Langkah keempat, pada waktu ayah bunda ingin membangunkan si kecil menjelang subuh atau sesuai waktu yang disepakati (sesuai usia si kecil), datangi si kecil dan tanyakan apakah ia ingin menggunakan gadget atau mainan kesayangannya. Ingat, tanyakan dengan menggunakan kalimat-kalimat pertanyaan saja dan jauhi penggunaan kosakata imperatif atau kata perintah seperti “bangun nak”, “ayo bangun”.
  • Langkah kelima, jika si kecil sudah mulai menjawab pertanyaan ayah bunda, ajak ia shalat sebelum dibolehkan menggunakan perangkat/mainannya lagi. Ulangi semua langkah di atas hingga 40 hari berturut-turut sampai si kecil terbiasa shalat shubuh tepat waktu.

Kontributor

Janwar Nurdin, saat ini bermukim di Manchester Inggris merupakan dosen teknik sipil di Universitas Malikussaleh. Suami dari Rahel dan ayah dari Marzuq, Hilma dan Muthiah sedang menempuh S3 Teknik Sipil di University of Manchester (2020)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.