Makanan Halal di UK

Salah satu tantangan besar hidup di luar negeri adalah makanan. Masalah makanan ini terbagi jadi dua, yang pertama adalah masalah makanan enak, dan yang kedua adalah makanan halal. Masalah yang pertama memang cukup berat. Sudah tak terhitung betapa besar rasa rindu dalam diri hadir pada martabak manis, martabak asin, mie ayam, cakwe, bakso, soto, sate, rawon, ikan gurameh bakar, roti bakar, siomay, nasi kuning, nasi uduk, lontong sayur, bala bala, tahu isi ,petis lele goreng ayam penyet dan lain lain.

Suatu malam saya pernah duduk duduk di luar bersama suami. Dengan beratapkan langit dan kemilau bintang-bintang, kami merasa…sepi. Betapa rindunya kami dengan suara abang sate dan abang bakso yang berkeliling malam-malam. Pun ketika kami jalan pagi dan merasa lapar ingin sarapan, kami merasa… sepi. Toko-toko baru buka jam 12 siang. Itupun yang dijual hanya ayam goreng, kentang goreng, dan burger. Betapa kami merindu akan hangatnya pagi di Indonesia yang ramai dengan abang lontong sayur, nasi uduk, bubur ayam, nasi kuning, gorengan, dan beragam jajanan pasar.

Itu tadi curhat saya dari isi hati yang terdalam tentang masalah pertama.


Sebenarnya tulisan ini lebih mau membahas tentang isu kedua, yaitu makanan halal. Saya dan suami saat ini tinggal di Inggris dengan masyarakat mayoritas bukan muslim. Alhasil, mencari makanan yang halal tidak semudah di Indonesia yang makanannya sudah banyak memiliki label halal.

Anyway, setiap muslim terkadang mempunyai standar halal masing-masing. Saya dan suami menerapkan standar sebagai berikut:

  1. No pork. Kalau ada restoran yang menyajikan daging halal dan pork secara bersamaan (beberapa chinese restaurant seperti ini), kami memilih menghindar. Alasannya adalah status pork yang tidak hanya haram dimakan, tapi juga najis.
  2. Only halal meat. Dengan dasar keumuman, ada pendapat yang membolehkan dirinya memakan daging sapi/ayam/lamb di negara kristen atau yahudi (disebut ahli kitab) walaupun tidak berstatus halal. Kami berusaha sebisa mungkin memakan daging yang mempunyai status halal yang jelas. Alasan yang mendasari adalah fakta banyaknya orang atheist atau agnostik di UK walaupun di sini adalah negara kristen.
  3. No khamr (miras), walaupun dalam bentuk khamr vinegar (seperti red wine vinegar). Ada perbedaan pendapat mengenai kebolehan wine vinegar ini, dan kami memilih menghindari konsumsi wine vinegar.

Setelah tinggal tiga tahun di UK, kami mulai menemukan pola dalam membeli makanan halal, yang ternyata tidak sesulit itu. Kami menemukan beberapa poin penting untuk memudahkan makan makanan halal.

Vegetarian

Di Inggris, cukup banyak orang yang menggunakan gaya hidup vegetarian. Oleh karenanya, banyak makanan dalam kemasan memasang label vegetarian untuk produk makanan yang tidak menggunakan unsur daging hewan. Produk-produk yang biasa memasang label ini salah satunya pastry, bakery, coklat, crisp, keju, butter, minuman, frozen food, instant foos, spices, dll.

Kata-kata “suitable for vegetarian” ini cukup ampuh untuk menemukan makanan halal. Kita tidak perlu memikirkan dan menganalisis apakah makanan ini mengandung hewan yang tidak jelas kehalalannya (seperti pork atau unhalal beef).

Produk yang perlu diwaspadai: beberapa permen terutama yang bertekstur kenyal (biasa mengandung pork atau beef gelatine), beberapa dessert (ada yang mengandung gelatine), kripik dengan rasa hewani (seperti rasa bacon atau chicken).

Bagian yang cukup tricky adalah makanan yang mengandung seafood. Seafood pada dasarnya halal walaupun dia tidak vegetarian. Tinggal kita pastikan di ingredient kalau makanan ini tidak mengandung unsur hewan lain atau alkohol seperti mirin.

No Alcohol

Setelah kita tahu bahwa si makanan bebas dari hewan-hewan yang tidak halal/tidak jelas kehalalannya, kita pastikan makanan tsb tidak mengandung khamrseperti red /white wine, wine vinegar, atau kadang tertulis alcohol.. Untuk makanan berkemasan, cukup cek ingredient saja.

Kalau untuk basic atau daily food yang biasa dimakan sehari-hari seperti roti tawar*, jam, atau butter, seringkali tidak mengandung alkohol.

Beberapa makanan yang perlu diwaspadai di poin ini adalah: dessert, cake, chilled food (contoh: spaghetti bolognaise di sini menggunakan wine), sushi, seafood, kripik dengan rasa spesial (ada yang mengandung wine vinegar).

*saya mengambil contoh kasus di UK saja. Ketika kami ke Paris, beberapa roti tawar ada tulisan alcol (alcohol) di ingredientnya, tapi kami kurang mengerti maksudnya.

Contoh roti yang mengandung Alkohol dari laman Halal or Haram di FB

Ask

Dua poin di atas sangat berguna untuk mengecek makanan dalam kemasan yang kebanyakan ada informasi ingredientnya. Bagaimana dengan makan di restoran?

Dulu, karena ragu, kami belum berani makan di restoran yang tidak ada label halalnya. Alhasil kalau makan di luar pilihannya hanya restoran Turki atau Malaysia. Awalnya kami tidak ada masalah dengan itu, hingga suatu hari saya ngidam sushi ketika sedang hamil. Ngidam berat.

Photo by Kelvin Zyteng on Unsplash

Akhirnya kami mencari beberapa restoran Jepang yang dekat rumah. Kami kemudian mengirim email ke restoran tersebut, menanyakan apakah produk-produknya mengandung alkohol (sebelumnya kami sudah memilah restoran yang tidak menyediakan pork). Ternyata, mereka menjawab dengan sangat baik. Salah satu restoran (Yo! Sushi) bahkan memberikan detail menu apa saja yang mengandung alkohol dan mendetilkan persenan alkohol yang terkandung. Kami akhirnya mengunduh dan mencetak menu mereka, kami coret yang tidak eligible, dan kami bawa ke restoran itu. Di sana kami memesan sesuai dengan referensi menu yg sudah kami saring. Alhamdulillah si ibu hamil bisa makan sushi :p

Contoh email balasan yang diberikan oleh pihak restoran

Selain itu, kita juga pernah bertanya via email ke restoran steak and lobster untuk memastikan mereka alcohol-free sebelum kami makan di sana. Ada juga beberapa restoran steak dan burger yang memang menyediakan daging halal apabila kita request dua hari sebelumnya.

Intinya adalah, gunakan hak konsumen untuk bertanya tentang ingredient di makanan yang disediakan. Di sini, hak konsumen untuk mendapat informasi sebaik-baiknya sangat diperhatikan. Pihak industri makanan sangat peduli terhadap allergen dan pilihan diet konsumen, entah itu karena alasan kesehatan atau agama. Mencari kontak restoran pun juga cukup mudah karena hampir semua restoran memiliki website yang memuat informasi kontak.

Food Delivery

Salah satu trik lain yang bisa digunakan untuk me-filter restoran dengan makanan halal adalah menggunakan aplikasi food delivery seperti Uber Eats, Just Eat, atau Deliveroo. Biasanya mereka mempunyai filter untuk kita memilih jenis makanan atau dietarynya. Silahkan pilih dietary halal, dan keluarlah pilihan-pilihan restoran.

Photo by Robert Anasch on Unsplash

Namun, banyak restoran yang muncul adalah restoran halal yang self-claimed. Artinya bukan halal tersertifikasi. Biasanya saya cek dulu menunya, apabila ada menu pork saya menghindari beli di restoran tersebut. Otherwise, I go ahead karena cukup percaya dengan bahan bahan yang mereka gunakan. Artinya mereka menggunakan daging (sapi, ayam, atau kambing) yang memang halal dan dalam proses memasaknya tidak mengandung alkohol.


Bagi saya dan suami mengonsumi makanan dan minuman yang jelas halal sangat penting. Crossing the barrier of halal tidak hanya sebatas berbuat dosa dan kemudian selesai. Kami memercayai bahwa makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh kita akan menjadi daging dan darah serta membentuk siapa diri kita. Bahkan, disebutkan dalam sebuah hadist arbain, kualitas konsumsi kita bisa mempengaruhi terkabulnya doa kita pada Allah SWT. Oleh karenanya, penting bagi kami untuk menjaga apa-apa yang masuk ke dalam tubuh kami.

Awalnya, menjaga standar kehalalan memang terasa berat. Apalagi kami berasal dari Indonesia yang hampir semua makanan bisa tinggal lep. Setelah kami menjalani terus menerus, ternyata Allah mudahkan kami untuk semakin banyak mengeksplor kuliner di UK tanpa melewati batas yang sudah ditetapkan. Alhamdulillah.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Sumber: https://medium.com/@hanadanjoko/makanan-halal-di-uk-8b209685af38

Hana Fitriani

Lahir di Jakarta dan besar di Sidoarjo. Setelah menyelesaikan studi S1 di Universitas Indonesia di  jurusan Sistem Informasi, Hana melanjutkan studi S2 di University of Southampton, jurusan Digital Marketing. Pengalamannya di antaranya adalah sebagai Digital Analyst di Selasar dari tahun 2014-2016, owner UMKM Crable Stationery, dan pengajar Tahsin online Qaaf dan Tahsin Kibar UK dari tahun 2017.

Hana saat ini tinggal di London, UK dengan suaminya, Joko P. Trinugroho dan  seorang anak.

Leave a Reply