Muslim Indonesia di UK (KIBAR UK) bahas Waqaf & Tanah Adat

REPUBLIKA.CO.ID — Umat Islam asal Indonesia di Inggris meluncurkan penggalangan dana untuk membangun masjid di London. Penggalangan dana dilakukan melalui situs ‘kitabisa’ dan ‘start-up’ yang ditangani oleh para mahasiswa dengan nama Muslim Experience.

“Hal itu dilakukan dalam acara KIBAR Spring Gathering (KSG 2017) yang digelar di kota Birmingham, Inggris,” demikian Ketua Keluarga Islam Britania Raya (KIBAR), Arif Abdullah kepada Antara London, Kamis (20/4).

Pada acara pertemuan Muslim Indonesia di Britania Raya yang digelar KIBAR hadir sekitar 500 orang. Hal itu,  kata Arif, menjadikan acara gathering atau pertemuan diaspora Indonesia tersebut menjadi yang terbesar di Inggris Raya.

Dikatakannya, peserta datang dari berbagai kota di Inggris Raya. Peserta terjauh dari Aberdeen di Skotlandia dan dari luar UK, seperti Ireland.

Acara bertema “Managing Our Ummah Asset” atau mengelola aset umat dengan pembicara tamu dari Indonesia Dr Eddy Iskandar, praktisi Bank Waqaf Internasional, memaparkan cara mengubah perspektif, mengenal potensi waqaf dan change management atau manajemen perubahan.

Dalam pertemuan ini, juga dipaparkan penjelasan tentang Waqaf oleh Ebi Junaidi dari Masyarakat Ekonomi Syariah (MES UK) mahasiswa doktoral program Ekonomi dari Univerisity of Durham. Sedangkan Zaid P Nasution, mahasiswa doktoral program Desentralisasi dan Tata Kelola Lingkungan dari University of Leeds menjelaskan mengenai Tanah Adat.

Pada cara gathering diaspora yang lama tinggal di Inggris, di antaranya Moemoeh Dwimunali yang bekerja di perusahaan Airbus yang bermukim di kota Bristol, dan Iswandaru Widyatmoko, bekerja di perusahaan AECOM yang menetap di kota Nottingham menyampaikan sambutan.

Ketua KIBAR Arif Abdullah, yang juga menjadi koordinator pelaksana gathering menyampaikan sudah saatnya Muslim Indonesia bangun dari tidur panjangnya dan menyadari selama ini terlena dengan kemegahan ibu kota dan pembangunan tersentralisasi sehingga lupa mengelola aset umat seperti tanah wakaf, masjid, pesantren, pasar kampung, dan lain sebagainya. Dengan dorongan mengelola aset umat diharapkan menjadi kontribusi besar dalam pembangunan Indonesia.

Gathering diharapkan juga menjadi momentum untuk diangkatnya kembali secara masif dan terstruktur isu Wakaf secara nasional, baik oleh masyarakat, ulama dan pemimpin masyarakat, akademisi juga oleh pemerintah baik pusat maupun daerah.

Koordinator lokal Pengajian di kota Birmingham, Abdul Rauf mengatakan, KIBAR Gathering yang merupakan perhelatan yang sudah berumur 28 tahun, menjadi tempat berkumpul diaspora Indonesia setiap dua kali dalam setahun, menarik dengan adanya “mabit” atau menginap malam sebelum dan malam sesudah acara yang menjadi sarana berinteraksi dan mengenal secara dekat peserta satu sama lain, dan juga diwarnai oleh kultum dari peserta.

Selain materi utama, gathering mengadakan sesi untuk muslimah, remaja dan anak-anak dihiasi dengan kegiatan mewarnai dan belajar pencak silat. Kegiatan remaja diisi dengan science project dan juga aktivitas outbound.

Posted in KSG 2017 and tagged .

Leave a Reply