Ihsan Mosque, Norwich

Reading supplement #07

by: Ekky Imanjaya
url: http://ekkyij.blogspot.nl/2015/06/ihsan-mosque-norwich.html

Ini cuplikan “A Very British Ramadan” dari Channel 4 tahun 2013. Episode ini fokusnya pada jamaah Ihsan Mosque, Norwich, tempat saya biasa shalat jumat (kalau tidak berada di kampus)  dan shalat lainnya (kalau lagi main di city center).

Imam masjidnya (Syeikh Abdassamad) diwawancara. Dia mualaf, tapi apakah kita bisa mengatakan seseorang “mualaf” kalau orangnya masuk Islam 40 tahun lalu dan menguasai kajian Islam (dan menerapkannya, tentunya) lebih dari sebagian  Muslim Indonesia yang saya kenal?

IMG-20150626-WA0004

Masjid ini berbeda dengan masjid lainnya (khususnya di kampus yang didominasi mahasiswa dari timur tengah) karena pendekatannya yang sufistik dan intelektual. masjid ini multikultural dan didominasi “mualaf” , warga asli UK dan juga kulit hitam. mereka ada tarekatnya–selain “tahlilan”/shalawat dengan suara yang dikeraskan–yang sifatnya agak tertutup, dengan alasan tidak mau menimbulkan fitnah dan perdebatan. juga punya lingkaran studi yang ilmiah, salah satunya tentang sejarah semacam “Early Madinah” dan juga fiat money dan pentingnya kebangkitan dinar dan dirham (saya agak buta soal ekonomi Islam, karena itu konsep fiat money ini baru dan sangat menarik bagi saya). Berkaitan dengan soal ini,  dalam suatu kesempatan, seorang tokoh Muslim dari Birmingham pernah berkunjung ke sini, dan saya diperkenalkan sebagai orang Indonesia, dan dia berkomentar: “Dari Indonesia? Wah, seharusnya Anda bangga. Ide memasyarakatkan Dinar dan Dirham itu asalnya dari negaramu!”.

Buka puasanya juga agak unik. Dua tahun lalu, kami sekeluarga berkesempatan ifthar di sini beberapa kali (sambil coba juga di tempat lain). Di sini cukup “British”. Pertama, makanan pembuka (pembatal puasa) seperti susu dan korma. tapi tak ada yang menyentuh makan hingga adzan selesai dikumandangkan. Setelah appetizer, shalat dulu. Lantas makanan utama, disantap dengan berjamaah (satu piring besar untuk 4-6 orang. setelah itu, sambil santai menunggu Isya, dihidangkanlah teh dan kopi, makanan ringan  dan, kalau cukup beruntung, es krim sebagai hidangan penutup.

Khutbah Jumatnya sangat mengenyangkan otak dan rohani saya. Kadang sang Kyai mengomentari hal-hal yang sedang hangat dibahas. Misalnya, soal ISIS, dengan tegas, di atas mimbar, sang Imam berkata: “itu bukan jihad. itu pembunuhan!”.

IMG-20150626-WA0007Dan kadang, kalau nongkrong besama mereka sehabis shalat jumat, diskusinya sangat menarik. kalau bahas musik, misalnya, mereka malas bahas nasyid (karena acapella mengingatkan mereka pada gospel, yang dekat dengan agama lama mereka), tapi malah bahas Jack White dan Neil Young. karena kedua musisi itu, menurut mereka, mencari spiritualitas dalam musik mereka yang “raw”. Bahkan mereka  punya komunitas musik, lengkap dengan alat musik dan  sound system. Dan tentu saja selera musiknya nyambung dengan saya: rock dan blues. Saya pernah diajak buat jam session, tapi belum sempat terlaksana.

Di lain kesempatan, sang Imam memposting link film They Live (film cult, yang menceritakan bahwa penonton bisa melihat “maksud sebenarnya” dari dialog/pidato para karakternya atau iklan/media lainnya yg terpampang).

Ah ya, dari segi fiqih, mereka bermadzab Maliki.  Saya jadi minoritas dan itu terlihat saat shalat, khususnya saat posisi berdiri (berbeda dengan lainnya, tangan saya bersedekap) dan duduk takhiyat akhir (posisi kaki kiri saya  menjorok ke kaki kanan).

Eh, jadi ngelantur. Silahkan dinikmati klip 4 menit ini:
A Very British Ramadan – Channel 4 – Norwich Muslim Community
http://www.downvids.net/a-very-british-ramadan-channel-4-norwich-muslim-community-559523.html

IMG-20150626-WA0030

Posted in Safar-i and tagged , .

Leave a Reply