Reaktualisasi Makna Shalat Kita

Sebagai seorang Muslim yang baik, tentunya kita sama-sama telah memahami betul definisi shalat, rukun dan tatacara pelaksanaanya, doa ketika dan setelah sholat, dan hal-hal lain yang menjadikan shalat kita sempurna dan diterima Allah SWT. Dalam kesempatan ini, yang akan menjadi pokok pembahasan kita bukan permasalahan tersebut. Kita akan mencoba untuk beranjak dari pemahaman dasar tentang tiang agama ini, kepada pemahaman yang lebih luas dan mendalam yaitu bagaimana nilai-nilai transcendent dalam sholat dapat kita aktualisasikan dalam realitas kehidupan yang sesungguhnya, sehingga pemahaman kita tentang shalat tidak ‘tekstual’ (hanya sebagai sebuah pemenuhan kewajiban semata), tetapi ‘kontekstual’ (sebagai kebutuhan spiritualitas manusia). Lebih jauh dari itu, sholat akan mendatangkan kebaikan bagi diri kita, dan kebajikan bagi orang lain.

Pada dasarnya, manusia diciptakan Allah dalam keadaan yang penuh dengan naluri alamiahnya yaitu harap dan cemas (QS 70: 19-21). Setiap hari, hidup kita dihiasi dengan harapan-harapan akan kesuksesan dan kebaikan, dan kecemasan akan kegagalan dan keburukan. Pada titik inilah, manusia memerlukan tempat untuk bersandar atas ‘kegalauan’ hidupnya, yang tidak mungkin bisa dipecahkan oleh manusia lainya yang memiliki derajat kecemasan yang sama. Oleh karena itu, shalat dalam pengertian awalnya disebut dengan doa agar manusia memiliki kedamaian lahiriyah dan bathiniyah.

Kalau kita renungkan perintah shalat dalam Al-Quran, kita akan mendapati bahwa bentuk imperativenya dimulai dengan kata ‘aqimu’. Derivasi kata tersebut berasal dari kata dasar ‘qama-yaqumu’ (berdiri) dengan penambahan huruf alif didepannya menjadi ‘aqama-yaqimu’ yang sering diterjemahkan sebagai ‘mendirikan’. Dalam berbagai literatur tafsir, sebenarnya implikasi makna tersebut bukan hanya sebagai bentuk melakukan suatu perbuatan saja, tetapi lebih dari itu, menuntut adanya ‘kontinuitas’ dan ‘kesempurnaan’. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita dapati banyak orang yang shalat, tetapi ia tidak mendirikanya. Banyak orang yang kelihatannya shalat, tetapi hanya memaknainya sebagai ritual pengguguran kewajiban semata, sehingga masih saja ia melakukan perbuatan keji dan munkar.

Shalat dalam konteksnya yang lebih luas bisa diartikan sebagai bentuk kemajuan tertinggi dalam pemikiran dan peradaban manusia. Karena dalam shalat, manusia menyatukan antara rationalitas dan spiritualitas. Nilai rasionalitas shalat terlihat dari adanya pengakuan akal terhadap eksistensi zat yang Maha Tinggi yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dan alam semesta. Sementara nilai spiritualitasnya, terlihat dari kebaikan dan kebajikan yang terpancar dari kepribadian manusia yang mendirikanya dengan penuh komitmen dan istiqomah.

Tentu kita setuju bahwa Islam adalah agama yang sempurna dengan segenap aturan dan syariatnya. Kalo didapati seorang Muslim yang melakukan perbuatan tidak terpuji, itu tidak mengindikasikan bahwa ajaran Islamlah yang salah. Sama halnya dengan kenyataan bahwa sering kita dapati seorang yang nampak sholeh, rajin shalatnya, namun terlibat perbuatan korupsi. Kita tidak bisa mengatakan begitu saja bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara sholat dengan pembentukan kepribadiannya. Perlu digarisbawahi bahwa bukan shalatnya yang salah, tetapi pemahaman terhadap nilai-nilai spiritualitas dalam shalatnya lah yang mesti diperbaiki. Maka benarlah, jika Al-Quran memerintahkan shalat dengan menggunakan kata ‘mendirikan’ bukan ‘melakukan’.

Shalat dalam dimensi transcendentnya bisa dijadikan sebagai barometer perbuatan manusia. Jika shalat seorang muslim benar, maka diyakini bahwa seluruh perbuatan lainya akan benar. Sebaliknya, jika shalatnya rusak, maka diasumsikan bahwa perbuatan yang lainya juga akan rusak. Di hari akhirat kelak, amal perbuatan manusia yang pertama kali akan dihitung adalah shalat. Maka benarlah, jika Nabi menganalogikan shalat sebagai tiang agama, dan syahadat sebagai fondasinya. Bisa dibayangkan jika sebuah rumah dibangun tanpa fondasi dan tiang, niscaya ia tidak akan mungkin bisa didirikan. Kalau pun bisa, rumah tersebut akan lemah dan rapuh.

Maka dirikanlah shalat dimanapun kita berada, dan dalam kondisi dan keadaan apapun, niscaya ia akan mengantarkan kita kepada kebaikan. Doa dan harapan yang kita panjatkan dalam shalat kita tidak akan pernah sia-sia, karena Allah menuliskannya dalam lauhul mahfudz. Dirikanlah shalat karena sesungguhnya kita sedang mendirikan bangunan kita di surga firdaus kelak. Dirikanlah, bukan hanya sekedar melakukannya. Dawamkanlah, bukan hanya sekedar meritualkanya.

Wallahu a’lam!

Penulis: Najamudin (Warga KIBAR Leeds).
Tulisan ini disampaikan pada Pengajian KIBAR Leeds, Minggu 26 April 2015, di Leed University Union (LUU), University of Leeds Inggris.

Leave a Reply