Antara Birmingham dan Rohingya

 

20150520061905

Birmingham, kota dengan julukan “the heart of England” ternyata banyak menyimpan rahasia.
Kanalnya ternyata lebih banyak daripada kanal-kanal di Venice.
Jumlah pohonnya ternyata lebih banyak daripada pepohonan di Paris.
Kotanya ternyata dijadikan tempat berkumpul oleh Mathew Boulton, James Watt, William Murdoch dan anggota gank “Lunar Society” lainnya untuk membahas upaya memantik revolusi industri.
Industrialisasi di “Workshop of the world” ini kemudian turut mengundang banyak imigran Muslim untuk memperbarui nasib mereka dan keturunannya.
Kaum muhajirin inilah yang mungkin juga berperan menjadikan kota ini menjadi rumah bagi lebih dari seratus lima puluh masjid. Cukup mendaulat Birmingham sebagai kota dengan populasi masjid kedua terbesar di ranah Britania Raya.

Namun ternyata, Birmingham juga pernah menyimpan luka.
Luka yang sesungguhnya menjadi penyemangat para “Lunaticks” tersebut untuk mengubah nestapa.
Salah satunya, untuk menghapus perbudakan dan penindasan kaum tak berdaya.
Mereka berkorespondensi dengan kaum orang peduli di berbagai negara.
Cameo karya Josiah Wedgwood yang bertuliskan “AM I NOT A MAN AND A BROTHER?” pun jadi sorotan yang memantik asa.

Semangat itu….
Kepedulian akan hak asasi itu…
Seakan bergemuruh…
Terus bergelora bagai gelombang yang tak mampu diredam…

Kini…
Disaat naluri kemanusiaan kita digugah dengan menepinya saudara-saudara kita dari etnis Rohingya di bumi nusantara,
sejarah Birmingham seperti jadi lebih bermakna.

Dulu, teknologi bisa mengubah pandangan kaum berkuasa bahwa perbudakan mau tak mau akan hilang karena tak lagi mampu bersaing dengan mesin-mesin
Kini, semoga kepedulian berjamaah kita mampu membuka mata dunia bahwa etnis Rohingya juga layak hidup aman dan sejahtera

Dulu, jika Lunar Society yang hanya bertemu di tiap bulan purnama… mampu mendiskusikan gagasan cemerlang yang mengubah dunia
Kini, semoga semua fasilitas teknologi komunikasi yang kita punya, yang bisa diakses kapan dan dimana saja… bisa lebih dahsyat menggerakkan dunia untuk bersama berdo’a dan memperjuangkan penghapusan pelanggaran HAM tingkat kakap atas etnis Rohingya

Dulu, para kaum peduli bergerak bersama untuk menyuarakan terjadinya revolusi sosial di dunia barat
Kini, semoga para penggiat kemanusiaan tak ragu apalagi gengsi untuk bekerja beriringan dalam langkah teratur, meretas batas negara, ras, apalagi hanya organisasi belaka.
Semoga para kaum peduli ini mampu menjadi “pressure group” yang menyadarkan khususnya pemerintah Myanmar, untuk mengakui etnis Rohingya adalah juga bagian dari mereka.

Dulu, jika cameo “Am I Not a Man and a Brother?” bisa menggugah kepedulian
Kini, semoga berita dan avatars yang disebarluaskan para media dan pejuang kemanusiaan… bisa terus mengingatkan kita:

“Are They Not Humans and Our Brothers and Sisters?”

————————————————————————————-

Semoga kita dipilih Allah untuk menjadi hamba-hambaNya yang dilepaskan dari kesusahan di hari kiamat kelak. Aamiin.

“Barangsiapa melepaskan dari seorang mukmin satu kesusahan diantara kesusahan di dunia, maka Allah akan melepaskannya dari kesusahan di hari kiamat kelak” (HR Muslim)

—————————————————————————————

*Tulisan ini terinspirasi setelah saya membacakan buku ilustratif “This is Birmingham: A Glimpse of the City’s Secret Treasurers” karya Jan Bowman, untuk Faiz – cahaya mata kami. Buku ini dipilih dan dipinjamnya dari perpustakaan di seberang rumah. Terima kasih ya, cintanya ayah dan bunda.

 

Penulis: Miranti Kartika Dewi

Posted in Artikel, Essai, Hikmah and tagged , , , , , , , , , , , .

Leave a Reply