Kiat-kiat Meraih Cinta Suami/ISTRI ( bagian 2 – akhir )

Pada bagian 1 yang lalu juga berlaku kiat untuk istri, jadi untuk keduanya, masing-masing bisa menyesuaikan.


6.      Berusaha untuk menjadi partner yang menyenangkan di kamar tidur

Banyak perempuan masih merasa malu untuk bersikap agresif meski kepada suaminya sendiri. Ini karena adanya anggapan bahwa perempuan yang agresif terkesan murahan dan tidak terhormat. Tentu saja anggapan ini tidak berlaku untuk seorang istri yang agresif kepada suaminya sendiri. Belajarlah cara dan teknik menyenangkan suami di tempat tidur dan Anda akan mendapati suami selalu melimpahkan cintanya untuk Anda! Sebaliknya suami harus juga demikian, boleh agresif kepada istri sendiri, berusaha menyenangkan istrinya.

Syariat Islam yang telah menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya sarana yang diperbolehkan untuk memenuhi dorongan seksual manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Karenanya, pernikahan adalah cara yang paling jitu untuk menjaga kehormatan, kebersihan serta memelihara kesucian diri dari perbuatan-perbuatan terlarang yang terkait dengan pemenuhan dorongan seksual manusia.

“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu dan berkeinginan untuk menikah, maka menikahlah! Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan.” (Muttafaqun alaih).

“Ada tiga golongan yang pasti akan ditolong oleh Allah, yaitu mujahid yang berjuang di jalan Allah, hamba sahaya yang bermaksud memerdekakan dirinya dan orang yang menikah dengan niat untuk menjaga kesucian dirinya.” (HR Tirmidzi).

Bertolak dari pemahaman ini kita dapat menjadi lebih memahami mengapa Islam ketika membahas masalah pernikahan, sangat memberi perhatian kepada masalah hubungan suami istri yang disebut jima’. Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pada setiap tasbih terdapat pahala, pada setiap takbir terdapat pahala, pada setiap tahmid terdapat pahala, pada setiap tahlil terdapat pahala, pada amar ma’ruf terdapat pahala, pada nahi munkar ada pahala dan seseorang melampiaskan syahwat kepada istrinya ada pahala”. Para sahabat banyak yang tercengang mendengarnya, mereka bertanya, “Seseorang melampiaskan syahwat kepada istrinya lalu mendapat pahala, bagaimana hal itu bisa terjadi ya Rasulullah?” Beliau berkata, “Bagaimana sekiranya jika dia melampiaskannya kepada yang haram, berdosakah dia? Maka begitu pula halnya, apabila dia melampiaskannya kepada yang halal, dia mendapat pahala.” (HR Muslim).

Begitu pentingnya masalah jima’ dalam pernikahan, sehingga Rasulullah SAW memerintahkan seorang istri untuk menyambut ajakan suaminya untuk berjima’, walau bagaimanapun keadaannya. “Apabila seorang suami mengajak istrinya berjima’, maka hendaklah istri menyambutnya meski ia sedang berada di dapur. (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi). Ada hal menarik dari hadits yang mulia ini, perhatikanlah kata-kata meski ia sedang berada di dapur. Apa yang dikerjakan seorang perempuan di dapur? Memasak bukan? Kapan biasanya perempuan memasak? Pagi atau siang hari bukan? Untuk siapa ia memasak? Untuk suaminya juga bukan? Memasak untuk suami adalah pekerjaan yang baik dan mulia, tetapi Rasulullah SAW yang agung memerintahkan istri untuk menghentikan pekerjaan yang baik dan mulia tersebut dan menuruti urusan yang lebih vital, yaitu memenuhi ajakan suaminya meski ajakan itu di waktu pagi atau siang hari! Namun demikian, suami hendaknya juga tahu situasi dan kondisi istri, sehingga lebih bijaksana.

Ingatlah, bersegera memenuhi ajakan suami dapat melahirkan cinta, membuat suami merasa selalu dicintai dan dihargai. Sebaliknya keengganan menuruti ajakannya dapat membuat suami merasa dirinya ditolak dan tidak dihargai oleh istrinya. Lebih jauh lagi Rasulullah saw sangat murka kepada istri yang menolak ajakan suaminya. “Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya, lalu ia menolak dan suaminya menjadi marah, maka ia akan dilaknat oleh para malaikat hingga pagi.” (HR Bukhari dan Muslim).

 

7.      Menarik hati suami / istri

Setelah ibadah kepada Allah, amal perbuatan yang terpenting bagi seorang muslimah adalah menarik hati suaminya dan menjadi tumpuan suaminya. Dia selalu membuat suaminya merasa senang di sampingnya, tenang hidup bersamanya, dan bahagia dapat menemaninya. Rasulullah saw bersabda : “Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah” (HR Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad). “Di antara kebahagiaan anak Adam itu ada tiga, demikian juga dengan kesengsaraannya, juga ada tiga.  Di antara kebahagiaan anak Adam itu adalah wanita shalihah, tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik. Sedangkan ketiga kesengsaraannya adalah wanita buruk (tidak shalihah), tempat tinggal yang buruk, dan kendaraan yang buruk” (HR Ahmad). Suami pun juga harus berusaha berbuat dan berpenampilan baik, sehingga menarik hati istrinya, menyenangkannya.

 

8.      Tidak berpaling ke lelaki lain (untuk istri) dan tidak ke perempuan lain (untuk suami)

Wanita muslimah yang benar-benar bertaqwa senantiasa memalingkan pandangannya kepada selain suaminya, sebagai wujud penerapan firman Allah swt, yang artinya :

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS an-Nuur 24:31).

Ketika keluar rumah mata suami harus dijaga, menahan pandangannya, agar tidak tertarik ke wanita lain secara tidak sah. Dia harus menjaga kehormatan dirinya untuk senantiasa berlaku dalam kebenaran.

 

9.      Tidak menceritakan wanita lain kepada suaminya, juga suami tidak mencertakan laki-laki lain kepada istrinya.

Sikap wanita muslimah yang cerdas adalah tidak menceritakan wanita lain kepada suaminya, baik teman maupun kenalannya, karena hal itu dilarang Islam melalui sabda Rasulullaah saw, “Tidak diperbolehkan seorang wanita bergaul dengan wanita lain lalu menceritakan kepada suaminya seakan-akan suaminya itu melihatnya” (HR Bukhari).

Untuk keseimbangan, lebih bijaksana jika suami juga tidak menceritakan (hal-hal yang menarik perhatian) lelaki lain kepada istrinya agar tidak tertarik pada istrinya itu.

 

10.  Tidak menyebarkan rahasia suami / istri

Wanita muslimah yang benar-benar bertaqwa dan selalu menjaga diri tidak akan pernah menyebarluaskan rahasia suaminya, dan tidak memberitahukan kepada siapa pun apa yang pernah terjadi antara dirinya dengan suaminya. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat kelak adalah laki-laki yang menggauli istrinya dan wanita yang menggauli suaminya, kemudian salah seorang dari keduanya menceritakan rahasia suami atau istri itu” (HR Muslim dan Abu Dawud).

Inilah ajaran menutup aurat dalam syarat shalat. Menutup aurat berarti menjaga rahasia. Suami dan istri harus saling menjaga rahasia, seperti rahasia ranjang, keluarga, keuangan, dan sebagainya. Mereka harus saling mempercayai dan dapat dipercaya.

( the end )

 

Penulis :

Muhammad Muhtar Arifin Sholeh

Dosen di UNISSULA Semarang

Ph.D Student di Information School, University of Sheffield UK,

Alumni Aberystwyth University UK, Antropologi UGM, & Tarbiyah IAIN

Posted in Artikel, Hikmah, Keluarga, Muslimah, Tausiyah and tagged .

Leave a Reply