Muraqaabah

Salah tiga dari 99 asmaul-husna adalah al-’Aalim, al-Baashir, dan as-Samii’. Allah adalah al-’Aalim (Maha Mengetahui), yang mempunyai makna sebagai berikut :

  1.  Allah Maha Mengetahui, berarti Dia sangat mengetahui apa pun, baik yang nyata maupun yang ghaib. Apapun, siapapun, dimanapun, kapanpun pasti diketahui oleh Allah. Oleh karena itu, waspadalah dan hati-hatilah.
  2. Dialah satu-satunya sumber dan pemilik semua ilmu pengetahuan. Dialah satu-satunya Pencipta alat perekam dan pengolah ilmu yaitu indra dan otak manusia. Sesuai perintah Allah, melalui rasul-Nya, manusia harus mencari ilmu dari bayi sampai mati. Oleh karena itu, manusia seharusnya mengetahui (mempelajari) ayat-ayat Allah, baik dalam al-Quran (ayat qauliah) maupun di alam semesta (ayat kauniah), juga melihat kebenaran, keadilan, dan semua ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Ilmu amaliah dan amal ilmiah, ilmu imaniah dan iman ilmiah harus diperhatikan. Ilmu harus diamalkan dan disebarkan. Jika ingin menjadi orang pandai jangan sendirian, mengajak orang banyak untuk pandai. Amal (perbuatan) manusia harus mengandung ilmu, jika tidak maka timbullah kehancuran, seperti seorang dokter yang membangun bangunan jembatan. Ilmu harus berlandaskan iman kepada Allah. ”’Allamal-insaana maa lam ya’lam” (Allah lah yang mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya). Iman juga harus mengandung ilmu. Orang berilmu harus meningkat imannya dan orang beriman harus berilmu.

Allah adalah al-Baashir (Maha Melihat), yang mempunyai makna sebagai berikut :

  1. Allah Maha Melihat, berarti Dia mampu melihat apa pun, baik yang nyata maupun yang ghaib. Apapun, siapapun, dimanapun, kapanpun pasti dilihat oleh Allah. Oleh karena itu, waspadalah dan hati-hatilah.
  2. Dialah satu-satunya Pencipta alat melihat yaitu mata. Dia menentukan struktur mata, fungsi mata, dan letak mata. Dialah sesungguhnya pemilik mata yang sebenarnya, sedangkan manusia hanya dipinjami/dititipi (diamanati) mata oleh Allah. Oleh karena itu, gunakanlah mata sesuai dengan apa yang dikehendaki Sang Pemilik, misalnya untuk melihat hal yang baik-baik dan melihat (membaca) ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat qauliah maupun kauniah.
  3. Dialah sumber dan Pemilik kemampuan melihat. Jadi, kita manusia mampu melihat bukan karena kemampuan mata kita yang sehat tetapi karena Allah meminjami kita mata dan kemampuan melihat.

Allah adalah as-Samii’(Maha Mendengar), yang mempunyai makna sebagai berikut :

  1. Allah Maha Mendengar, berarti Dia mampu mendengar apa pun, baik yang nyata maupun yang ghaib, termasuk suara dalam hati. Suara apapun, dari siapapun, dimanapun, dan kapanpun pasti didengar oleh Allah. Oleh karena itu, waspadalah dan hati-hatilah.
  2. Dialah satu-satunya Pencipta alat mendengar yaitu telinga. Dia menentukan struktur telinga, fungsi telinga, dan letak telinga. Dialah sesungguhnya pemilik telinga yang sebenarnya, sedangkan manusia hanya dipinjami/dititipi (diamanati) telinga oleh Allah. Oleh karena itu, gunakanlah telinga sesuai dengan apa yang dikehendaki Sang Pemilik, misalnya untuk mendengar hal yang baik-baik dan mendengar ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat qauliah maupun kauniah.
  3. Dialah sumber dan Pemilik kemampuan mendengar. Jadi, kita manusia mampu mendengar bukan karena kemampuan telinga kita yang sehat tetapi karena Allah meminjami kita telinga dan kemampuan mendengar.

Konsekuensi dari keimanan terhadap tiga asmaul-husna tersebut adalah muraaqabah. Dari segi etimologis, kata muraaqabah berasal dari kata raaqaba yang berarti mengawal, menjaga, dan mengamati. Muraaqabah bisa juga diartikan pengawasan. Dari segi terminologi, muraaqabah diartikan sebagai kesadaran penuh seseorang (khusunya seorang muslim) bahwa di mana saja dan kapan saja dia selalu dalam pengawasan Allah. Allah selalu mengamati, menjaga, dan mengawal semua manusia di manapun dan kapanpun.

Innallaaha kaana ’alaikum raqiiba (QS an-Nisaa’ 4:1), ”sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.

Wa kaana-Allaahu ’alaa kulli syai-in raqiiba (QS al-Ahzaab 33:52), ”dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu”.

Kualitas tertinggi dari muraaqabah adalah ihsaan. Dalam suatu hadits, Rasulullah saw mendefinisikan ihsaan sebagai berikut:

an-ta’buda-Allaaha ka-annaka taraahu, fail-lam takun taraahu fainnahuu yaraaka – engkau beribadah (menyembah) Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Sekalipun engkau tidak dapat melihat-Nya, tetapi sesungguhnya Dia melihatmu” (HR Bukhari Muslim).

Jika semua amalan manusia dinilai sebagai ibadah maka di mana saja dan kapan saja sifat ihsaan harus tetap ada dalam setiap perbuatan karena keyakinan bahwa Allah selalu mengawasi (muraaqabah).

Sifat ihsaan dan kesadaran tinggi tentang muraaqabah dapat mendorong seseorang untuk muhaasabah, yaitu menghitung atau mengevaluasi amal perbuatan dan sikap hatinya. Muhaasabah dapat dilakukan sebelum dan/atau sesudah berbuat sesuatu. Muraaqabah merupakan jalan menuju muhaasabah (al-muraaqabah thariiq ila-al-muhaasabah).

Ketika menjadi khulafaur-rasyidiin, Umar bin Khaththab ra pernah memberi nasehat kepada para aparat/pejabat pemerintah, yaitu haasibuu anfusakum qabla antuhaasabuu….., yang arti lengkapnya, ”hisablah dirimu sebelum kamu dihisab kelak. Timbanglah dirimu sebelum kamu ditimbang kelak. Karena sesungguhnya akan ringan bagimu menghadapi hisab esok hari bila kamu telah menghisabnya hari ini. Berhiaslah kamu untuk hari ’pameran besar’ di mana hari itu dirimu akan dipamerkan tanpa ada yang tersembunyi sedikitpun”.

Wallaahu a’lam bish-shawwab,
Insya Allah bersambung

Pengasuh Kajian :
Muhammad Muhtar Arifin Sholeh
Dosen di UNISSULA Semarang
Ph.D Student di Information School,
University of Sheffield, United Kingdom
Alumni Aberystwyth University, United ingdom
Alumni Antropologi UGM & Tarbiyah IAIN

Posted in Artikel, Ramadhan and tagged , , .

Leave a Reply