Merajut Tali Persahabatan – bagian 2

sambungan dari bagian 1

Kita adalah individu. Sebagai individu kita tetap memerlukan teman untuk bersosilisasi, berinteraksi secara berkesinambungan. Ada teman di sekolah SD, SMP hingga SMU atau teman kuliah juga teman ditempat bekerja dan bisa jadi teman di sebuah komunitas.

Ditempat bekerja atau organisasi, kita akan mendapatkan teman baru. Biasanya dari seringnya kita bertemu dan berinteraksi dan dari sekian banyak orang, kita akan memilih dan memilah ..siapa gerangan yang bisa dijadikan teman dekat? Siapa kira-kira yang sepemikiran, bisa mengikuti alur fikiran kita, satu pandangan, nyambung kalau kita ajak bicara, sampai pada satu saat kita bisa saling percaya untuk mencurahkan isi hati (curhat) dan berharap sang teman tidak mengulang atau membicarakan ke orang lain.

Teman adalah yang seseorang yang mau menunjukkan di mana letak kesalahan kita, bukan yang membicarakan di belakang dan membiarkan tetap dengan kesalahan yang kita buat tanpa tahu apa yang salah dan salahnya kita.

Ternyata pertemanan begitu pentingnya dalam Islam. Dibawah ini saya sarikan sebagai tolo ukur kita dalam berteman dan memilih teman.

Persahabatan dalam Islam. Apa itu?

‘Maka dengn nikmatnya kamu menjadi bersaudara’ (QS. Al-qalam:4)

Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya), diantaranya: ‘….dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah. (Hadith)

‘Saling mencintai karena Allah Ta’ala dan persaudaraan dalam seagama termasuk ibadah yang paling utama dan ia adalah buah dari akhlak yang baik dan kedua duanya terpuji’. demikian sebuah prakata dalam bab persahabatan yang dituliskan oleh imam besar Al Ghazali.

Ada satu lagi ungkapan dari yang tercinta Rasulullah saw: ‘Barang siapa bersaudara dengan seseorang karena Allah, maka Allah ta’ala akan mengangkatnya satu derajat di surga yg tida didapatny dengan sesuatu amalnya’.

Begitu banyaknya hadith mengungkapakan tentang teman dan persahabatan dalam Islam, berarti hal ini sangat penting dalam kehidupan kita sebagai muslim yang mukmin.

Lalu bisakah kita berkumpul dan menemukan dengan orang-orang yang sepaham, sepemikiran (satu fikrah) atau visi karena Allah. Ah, ternyata tidak semudah itu mencari sosok yang kita impi dan dambakan.

Katakanlah suatu hari kita temukan seseorang yang menurut kita cocok dan klop untuk dijadikan teman dekat, sahabat karib, seseorang yang bisa kita andalkan kebaikan dan kejujurannya.

Ternyata kita dihadapankan pada sebuah hal yang sangat realistis.

Disaat kita tidak cocok atau teman kita, disaat kita tidak bisa lagi menuruti kehendak kita atau katakanlah sudah tidak cocok lagi, maka mulai terjadi pergesekan, ketersinggungan. Kadang tidak saling bertegur sapa atau bahkan saling menghindar untuk tidak berpapasan, bahkan sudah sampai pada jenjang untuk tidak saling mengucap ‘salam’.

Lalu kita mengklaim , ‘oh saya marah karana Allah, saya membenci karena Allah, saya tidak suka dengan ulahnya yang menurut saya sangat berlawanan dengan agama kita’. Itu menurut perasaan kita, sementara teman kita juga berpegang pada prinsipnya, sama-sama merasa benar. Maka apa yang terjadi disaat dua makhluk Allah ini tidak lagi saling bertegur sapa, saling mengucap salam, malah sebaliknya saling membenci dan munkin saling mendendam…

Jujurkah kita? Berlapang dadakah kita dikala teman kita tidak sepaham, berbeda pendapat dalam beberapa hal yang sangat kecil? Mampukan kita mengalah untuk menang dalam banyak hal?

Memilih Teman & Sahabat

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, sahabat bisa berarti teman. Sedangkan sahabat kental adalah orang yang begitu dekat kepada kita sampai pada tingkat boleh mengetahui rahasia pribadi.

Ada lagi yang mengatakan bahwa teman adalah personifikasi diri. Kita cenderung dan berupaya memilih teman yang mirip dengan kita dalam hal hobi, kecenderungan, pandangan, pemikiran kita. Bahkan kalau perlu kita bisa mengenakan sepatunya yang tentu saja ukurannya tidak sama.

Karena itu, Islam memberi batasan-batasan yang jelas dalam soal pertemanan. Teman memiliki pengaruh yang besar sekali. “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” sabda Rasulullah (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Makna hadits di atas adalah seseorang akan berbicara dan ber-perilaku seperti kebiasaan kawannya. Karena itu beliau mengingatkan agar kita cermat dalam memilih teman. Kita harus kenali kualitas beragama dan akhlak kawan kita. Bila ia seorang yang sholeh atau sholehah, boleh kita temani. Sebaliknya, bila ia seorang yang buruk perangai atau akhlaknya dan suka melanggar ajaran agama, kita harus menjauhinya, begitu sarannya.

Prof. M. Quraish Shihab, ilmuwan yang juga pakar dalam hal silatarahim mengatakan bahwa Al-quran mengajarkan kita untuk mencari sahabat yg terus menerus bersama kita dan memberi manfaat sampai di hari kemudian.

Allah berfirman “al akhilahu yaumaidzin ba’duhum li ba’din alu ilal muttaqin”. Menurut ayat itu, semua sahabat pada hari kemudian akan jadi bermusuhan kecuali sahabat yg dijalin berdasarkan ketaqwaan kepada Allah.

Menurutnya lagi ada beberapa tingkatan sahabat. Tingkatan pertama adalah “shohib” yang dalam bahasa Indonesia menjadi “sahabat”. Boleh jadi shohib ini tidak seide dengan kita. Tetapi karena dia menemani kita maka kita namakan sahabat dalam perjalanan, maksudnya perjalanan dalam hal berkomunitas dan berorganisasi.

Setelah shohib atau qarib ada lagi yang lebih tinggi, Al qur’an mena-mainya “shodiq” dari kata ‘shidq. Shidq itu artinya ‘benar’, ‘jujur’.

Sahabat yang baik adalah mereka yang berkata jujur dan ikhlas.

Kebersihan hatinya hanya dicapai oleh iman dan taqwa kepada Alla swt…dengan demkian keihklasan akan terpancar dari jiwanya. Bukankah sebaiknya melakukan sesuatu dengan ikhlas bukan karena dengan sebab lain. Dan keikhlasan ini tidak mesti kita sebut secara verbal (lisan), simpanlah baik-baik karena masalah ikhlas hanya diri kita and Allah saja yang mengetahuinya.

Bapak Quraish Shihab menambahkan bahwa ada tingkatan yang lebih tinggi lagi, yakni “kholil”. “Kholil” berasal dari akar kata bermakna “celah”, maksudnya sahabat yang begitu dekat dengan kita. Pertemanannya, persahabatannya, dan kasih sayangnya, masuk ke celah-celah qalbu kita. Dengan kata lain perasaan diantara keduanya sudah sehati. Ketika kita sakit dia akan ikut merasakan sakit, ketika kita dirundung malang sahabat kita akan ikut merasakannya pula.

Kholil ibarat kita melihat diri kita sa’at bercermin. Contoh kholil dalam sejarah Islam dapat dijumpai pada dua sahabat Rasul, Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Suatu waktu ada orang berkata, “saya tidak tahu siapa khalifah, siapa kepala negara, apakah engkau wahai abu bakar atau umar ?”Abu bakar menjawab, “saya tetapi dia”.
Bagiamana memelihara persahabatan?

Realitanya ternyata tidak mudah memelihara sebuah persahabatan. Ada orang pandai bersahabat tetapi tidak pandai memelihara persahabatan. Islam sesungguhnya juga telah mengajarkan bagaimana seseorang memelihara persahabatan.

Inilah resep untuk memelihara sebah persahabatan;
1. Jangan mencampurbaurkan antara serius dan canda.
2. Jangan jawab marahnya atau makiannya dengan makian yang serupa.
3. Jangan sekali-kali berkata kepada teman kita, “kamu bodoh”.
4. Jangan lupa memberi penghargaan atas setiap saran yang dia berikan serta jangan menyalahkan jika sarannya jika tidak berhasil
5. Jadilah pendenganr yang baik. ‘Be a good listener’. Disaaat kita menceritakan hal kita, dengarkan baik-baik, berilah komentar bukan malah meresponnya dengan menunjukan kehebatan kita ‘ Oh..kalau saya begini dan begitu’ sehingga kita menyimpulkan malah ia menonjolkan kehebatan dirinya padahal kita sedang mencurahkan isi hati kita.
6. Jangan pernah menampakkan dan menyebut-nyebut jasa kepada sahabat kita.

Persahabatan yang dilandasi oleh agama tidak hanya membawa manfaat di dunia tapi juga di akhirat. Karena itu di hari kemudian ada tujuh kelompok yg mendapatkan kedudukan yg tinggi di sisi tuhan salah satu di antaranya adalah dua orang yg bersahabat karena Allah, bertemu dalam tuntunan agama, dan berpisah dalam tuntunan agama.

Sebagai penutup Imam Ghzali rahimullah mengatakan beberapa ciri-ciri persahabtan dalam Islam:

“Imam Al-Ghazali berpesan kepada anak lelakinya: “Wahai anakku, sekiranya engkau merasa perlu untuk bersahabat dengan seseorang, maka hendaklah engkau memilih orang yang sifatnya seperti berikut:
1. Jika engkau berbakti kepadanya, dia akan melindungi kamu.
2. Jika engkau memerlukan pertolongan daripadanya, dia akan membantu kamu.
3. Jika engkau menghulur sesuatu kebaikan kepadanya, dia akan menerimanya dengan baik.
4. Jika engkau rapatkan persahabatan dengannya, dia akan membalas balik persahabatan kamu.
5. Jika engkau merancangkan sesuatu, niscaya dia akan membantu kamu.
6. Jika dia melihat sesuatu yang tidak baik daripada kamu, dia akan menutupnya.
7. Jika dia mendapat sesuatu kebajikan (bantuan) daripada kamu, dia akan menghargai atau menyebut kebaikan kamu.
* Teman yang paling baik adalah apabila kamu melihat wajahnya, kamu akan teringat akan Allah, mendengar kata-katanya menambahkan ilmu agama, melihat gerak-geriknya teringat akan kematian…

Allah alam bisawab.

Dirangkum dari berbagai sumber, semoga bermanfa’at

 

Oleh: Nizmas Agustjik

London, 21 Juli 2011

Posted in Artikel, Essai, Muslimah and tagged , , , .

Leave a Reply