Merajut Tali Persahabatan – bagian 1

Mana kelompok yang saling mencintai satu sama lain karena Allah? Suara ini menggema pada saat kita tengah berkerumun dipadang masyhar hendak menemui Allah swt. Dan merekapun, yang berteman, berkumpul karena Allah diperintahkan menuju kearah kanan. Mereka disambut oleh Allah.

‘ Dan ciri orang orang yang saling mencintai karena Allah adalah ia sabar dan lapang dada serta tak terganggu oleh urusan duniawi’ tambah Imam Ghazali dengan referensi beberapa hadith.

Dan betulkah kita akan mendapat perlindungan atau naungan hanya karena mencintai, berkumpul atau berpisah karena Allah?

Mampukah kita mempertanggung jawabkan ini?
‘Betulkah Allah akan meminta pertangungan jawab kita nanti dihari peradilan atau pembalasan. Kenapa teman atau orang-orang disekitar kita harus dipertanggung jawabkan nanti dihadapan Allah ?

Perlukan kita bertyeman atau bersahabat?
Apa tidak cukup dengan suami, istri, anak dan keluarga atau orang tua kita saja? Bukankha keluarga cukup memakan waktu kita dari Senin hingga ke Senin lagi?

Kenapa kita harus berteman, bersahabat? Perlukan kita berkawan dan bersahabat atau berkumpul dengan manusia lainnya yang kadang malah bikin repot dan saling merepotkan?

Dari pengalaman hidup dalam hal berinteraksi atau bergaul, bersosialisasi, berteman hingga bersahabat..membuat saya ingin menorehkan dan mengajak pembaca..apa siih sesungguhnya manfaat serta hakekat berteman, bersahabat dan bersosialiasi dalam Islam?

Lalu apa kedudukan si teman atau sahabat kita dimata Allah?

Ternyata hal ini tidak bisa disepelekan atau dianggap ringan karena semua langkah, perbuatan dan ucapan didunia akan kita pertanggung jawabkan kelak dihari pengadilan termasuk juga orang-orang disekitar kita.

Allah SWT berfirman,”Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara “ (QS Al Hujjuraat 10)

Atau BER-UZLAH?
Mana lebih baik kita bergaul, besosialsiasi dengan risiko akan ada sikap dan perlakuan riya, beghibah, berhasad, berhasud dan bebagai macam penyakit pada saat kita berinteraksi dengan manusia?

Atau kita memilih diam dirumah, beruzlah, meminjam istilah Imam Ghazali.

‘Kalau ternyata berinteaksi dengan manusia merepotkan dan bahkan menimbulkan fitnah ..kenapa kita tidak beruzlah saja? ujar temanku.

Kalau kita tiak bergaul dan berteman atau berkhalwat dengan manusia lainnya, khan risikonya sedikit banget.

Banyak teman atau kenalan yang kadang merasa rikuh pada saat mereka bergaul dan berteman. Sehngga salah seorang teman mengeluh:

‘Saya ini serba salah, engga berteman salah bertemanpun salah…’ keluhnya.

‘Dirumah kita bisa tadarusan Al-Quran, menghatam berulang-ulang, sholat ratusan rakaat, bermunajat dan sebagainya. Jadi ada yang berpendapat bahwa diam diruamh jauh lebih baik ketimbang bergaul dimana manusia cenderung melakukan hal-hal yang terlarang seperti ghibbah dan riya,meniru akhlak yang tercela, membanding diri akan kehebatan dirinya seakan dirinya jauh lebih baik dengan yanglainya, atau kadang cenderunga men-jugde atau menila seorang.

Sebetulnya untuk diam dirumahpun dijaman modern ini tidak susah-susah amat, tidak mesti menjauh dan menyingkirkan diri ke gunung. Tokh ada computer dengan fasilitas internet yang bisa menghubungkan kita keseluruh jagat pojokan dunia. ‘Dunia Maya’.

Kita bisa belajar sendiri lewat INTERNET/ google, kalau mau belajar agama bisal lewat Islamonline atau ratusan situs lainnya dan bahkan bisa ngobrol atau chatting lewat Yahoo Massenger, Facebook, Hape yang  termutahir sepet Blackberry dan bahkan tersedia fasilitas telefon lewat internet seperti SKYPE. Gratis lagi.

Saya nyatakan begitu pada pada Evi ‘ pada suatu petang. Ia tinggal di Manchester saat itu.

‘ Iya lah Teh tapi kalau kita cuma dirumah aja mah engga naik kelas, kaya Unyil dong.? kelakarnya lewat telefon.

Masak seragamnya merah putih terus. ‘Iya malah nanti jadi kuper ya? imbuhku.

‘Artinya…. tambah beliau, ….justru disaat kita berinteraksi dan bersosialisasi dengan manusia kita akan dihadapkan oleh berbagai ujian dan cobaan. Maksudnya justru disitulah ujian bagi kita semua. Sampai level manakah keimanan kita? Sanggupkah kita bersabar manakala kita menyaksikan keberhasilan dan kelebihan orang. Sebelkah manakala teman kita selalu bergantian mobilnya dengan nomor plat baru? Mampukah kita dikritik, disindir atau dirasani (pinjam istilh bahasa Jawa) oleh mereka. Mampukah kita berlapang dada saat kita dicerca dan dimaki, Mampukah memerangi rasa iri, dengki kita tatkala mendengar kemajuan yang diraih oleh sahabat kita?

ooops..berhenti dulu ya..ntar disambung biar gak bosen dan penasaran.. bersambung lho.

NOTE: Ini catatan atau orat-oret lama yang lama terperam…mulus atas dasar pahit manisnya dalam berinteraksi dengan dengan sesama

 

by: Nizma Agustjik
Bromley, 3 Juli 2011

Posted in Artikel, Essai, Karya, Muslimah and tagged , , , , .